Dari Satu Anak Hingga Puluhan, Kisah Mulia Yayasan Gayatri Widya Mandala

TABANAN BALI, AngkatanMerdeka.com–
Kepedulian tulus terhadap anak-anak yang membutuhkan pengasuhan terus dijalankan secara konsisten oleh Yayasan Gayatri Widya Mandala, yang beralamat di Jalan Wibisana No. 11, Tabanan, Bali. Yayasan ini telah berdiri secara hukum sejak tahun 2014 dan diketuai oleh Wiwin Sri Pujiastuti, SST FT.
Yayasan ini lahir dari inisiatif Eriana Herlisanti, S.Pd., yang akrab disapa Oma.
Kepeduliannya bermula saat beliau masih menjadi guru dan menemukan seorang siswa yang kesulitan membayar biaya sekolah. Bermula dari membantu satu anak, rasa kepedulian itu terus tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya terbentuklah lembaga pengasuhan yang kini menjadi rumah dan harapan bagi puluhan anak.
Sebelum menempati gedung saat ini, anak-anak binaan Yayasan Gayatri Widya Mandala sebelumnya tinggal di Jalan Sugriwa, Kelurahan Delod Peken, Kecamatan Tabanan. Saat itu, sekitar 16 anak harus berbagi ruang dengan fasilitas yang masih sangat terbatas. Kondisi tersebut mendorong lahirnya gedung baru pada tahun 2015, berkat dukungan seorang donatur.
Seiring bertambahnya jumlah anak, yayasan kembali mendapatkan dukungan untuk memperluas pembangunan gedung. Kini, tersedia empat kamar dengan kapasitas maksimal sekitar 48 anak, namun keterbatasan lahan membuat kapasitas tersebut tidak dapat diperluas lagi. Saat ini, terdapat sekitar 33 anak dan 9 bayi yang berada dalam pengasuhan yayasan.
Pada awalnya, anak-anak yang ditampung mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu dan daerah pelosok Tabanan. Sejak tahun 2017, yayasan juga mulai menerima bayi yang dititipkan oleh keluarga karena berbagai kondisi, terutama keterbatasan ekonomi maupun ketidaksiapan orang tua dalam mengasuh. Yayasan dengan tegas menegaskan bahwa izin yang dimiliki adalah izin pengasuhan, bukan adopsi.
Setiap anak tetap dicatat identitas dan asal-usulnya secara lengkap, agar dapat diketahui dengan jelas apabila suatu saat dapat kembali kepada keluarganya.
“Harapan kami, anak-anak yang dititipkan ini tetap memiliki masa depan yang baik. Kami juga berusaha menjaga identitas dan asal-usul mereka, sehingga jika suatu saat bisa kembali kepada orang tuanya, semuanya memiliki catatan yang jelas,” ujar Ketua Yayasan Gayatri Widya Mandala, Wiwin Sri Pujiastuti, SST FT.
Beberapa anak yang dititipkan juga memiliki kebutuhan khusus. Salah satunya mengalami cerebral palsy dan gangguan penglihatan, sehingga rutin menjalani terapi. Ada pula bayi dengan kondisi bibir sumbing yang telah menjalani operasi tahap pertama berkat bantuan lembaga sosial. Selain pengasuhan, yayasan mengembangkan layanan daycare yang kembali beroperasi sejak tahun 2022, setelah sempat berhenti akibat pandemi.
Daycare berbayar bagi masyarakat umum ini menjadi bagian dari konsep subsidi silang, di mana hasil operasionalnya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yang tinggal di lingkungan yayasan. Tahun ini, yayasan juga membuka layanan terapi bagi anak berkebutuhan khusus, tidak hanya untuk anak binaan, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum.
“Kami mencoba mengembangkan layanan sesuai kebutuhan anak-anak yang ada di sini. Karena kami juga memiliki anak berkebutuhan khusus, akhirnya kami membuka layanan terapi agar tidak hanya anak binaan yang mendapatkan manfaat, tetapi juga anak-anak dari luar,” tambah Wiwin.
Dalam menjalankan seluruh kegiatan, yayasan didukung oleh sekitar 19 orang staf dan tenaga freelance, serta bantuan para donatur yang datang secara berkala. Meski terus berupaya berbuat sebaik mungkin, masih terdapat sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian, di antaranya dua anak yang belum memiliki akta kelahiran karena tidak memiliki dokumen kelahiran maupun identitas orang tua yang jelas. Oleh karena itu, Wiwin berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap persoalan administrasi dan akses bantuan bagi anak-anak yang berada dalam pengasuhan yayasan tersebut, agar mereka juga dapat menikmati hak-hak dasar yang setara dengan anak-anak lainnya. (STAR)
