Hafid Abbas: Selamat Jalan AGH Sanusi Baco LC

Masyarakat Sulawesi Selatan kini kembali lagi berduka atas kepergian AGH Sanusi Baco LC, Ketua MUI Sulawesi Selatan. Beliau betpulang ke rakhmatullah kemarin, 15 Mei 2021, sekitar 20 jam yg lalu di tengah suasana perayaan Idul Fitri. Siapa pun yg mengenal beliau akan merasa kehilangan karena kelembutan dan keindahan tutur katanya dalam menyampaikan pesan dan dakwanya.

Sungguh banyak keteladanan yg Almarhum wariskan kepada negeri ini yg patut dirawat abadi dari generasi ke generasi.

Berikut ini adalah satu contoh tuturan singkat beliau di hari-hari terakhir menjelang kepergiannya.

“Jika seorang pemimpin dicintai rakyatnya, maka jabatannya akan jadi nikmat”, dst.

Tuturan ini mengingatkan saya ketika pada awal 2004, saya berkunjung ke Carter Center di Atlanta atas undangan US Department of State dan menyempatkan diri bersiarah ke makam Martin Luther King yg bersebelahan dengan musiumnya.

Di sana saya menemukan tulisan: “Everybody can be great…because anybody can serve. You don’t have to have a college degree to serve. You don’t have to make your subject and verb agree to serve. You only need a heart full of grace. A soul generated by love.”

Martin Luther King sebagai pejuang HAM yg menentang rasisme telah mengantarkannya mendapatkan hadiah nobel perdamaian pada 1964. Namun, pada 4 April 1968, ia ditembak mati. Itulah harga yg harus ia tebus atas perlawanannya menentang “racial inequality”, ada ras yg istimewa dan ada yg termajinalkan, miskin dan tertinggal.

                                                              Foto. Alm AGH Sanusi Baco.

Pesan Alm AGH Sanusi Baco sesungguhnya sama dengan pesan Martin Luther King yg hendak menghadirkan pemimpin yg dicintai rakyatnya karena sungguh-sungguh mengurus rakyat. Prmimpin yg memajukan mereka yg tertinggal.

Ironis memang jika ada pemimpin yg hadir hanya untuk mengurus dirinya sendiri agar terpilih lagi untuk priode kepemimpinan berikutnya atau hanya mengurus dinasti politinya, hanya mengurus anaknya, menantunya, isterinya atau kelompoknya.

Ironis memang jika Indonesia sebagai negara raksasa telah tercatat sebagai negara dgn tingkat kesenjangan kaya miskin terburuk ke empat di dunia, berada setelah Rusia, India, dan Thailand (world most unequal countries, 2016).

Semoga semua pemimpin di negeri ini, di strata dan di lingkup manapun akan dikenang dan dicintai rakyatnya karena mereka sungguh-sungguh bekerja untuk memajukan rakyatnya atau warganya yg tertinggal.

Selamat Jalan AGH Sanusi Baco, tuturanmu dan keteladananmu akan dikenang abadi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *