35 SD ikut Festival olahraga tradisional sekecamatan Cicurug

SUKABUMI, AngkatanMerdeka.com–
Semangat melestarikan budaya sekaligus membangun generasi yang sehat dan berkarakter kembali digaungkan melalui Festival Olahraga Tradisional Tingkat Sekolah Dasar yang digelar Kelompok Kerja Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (KKG PJOK) Kecamatan Cicurug.
Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 1 Cicurug, Kamis (17/9/2026) tersebut mengusung tema “Lestarikan Budaya, Sehatkan Generasi, Bersama Menuju Indonesia Jaya”. Sejak pagi, suasana sekolah tampak semarak dengan kehadiran para siswa dan guru dari berbagai sekolah dasar negeri maupun swasta se-Kecamatan Cicurug.
Festival ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antarsiswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk kembali mengenal, memainkan, sekaligus menghidupkan permainan tradisional yang sarat dengan nilai kebersamaan.
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin beragamnya pilihan hiburan anak, permainan tradisional dinilai memiliki tempat penting dalam proses tumbuh kembang siswa. Melalui aktivitas yang dilakukan secara langsung dan berkelompok, anak-anak diajak bergerak aktif, berinteraksi dengan teman sebaya, serta belajar menghargai aturan dan perbedaan.
Sejumlah nilai tersebut menjadi bagian penting dari tujuan festival yang dimulai pukul 07.30 WIB hingga selesai. Para peserta didorong untuk tumbuh menjadi anak yang sehat, bahagia, bersahabat, mencintai budaya, serta memiliki rasa bangga sebagai bagian dari generasi Indonesia.
Empat Permainan Tradisional Dipertandingkan
Dalam festival tersebut, peserta mengikuti empat cabang olahraga tradisional, yakni hadang, egrang, lari balok, dan terompah.
Setiap permainan memiliki karakter dan tantangan tersendiri. Hadang, misalnya, menuntut kekompakan, strategi, kecepatan, sekaligus kemampuan membaca pergerakan lawan. Sementara egrang menguji keseimbangan dan keberanian peserta dalam menjaga langkah agar tetap stabil.
Adapun lari balok menjadi permainan yang mengasah koordinasi gerak dan kerja sama, sedangkan terompah mengajarkan pentingnya kekompakan langkah dalam sebuah kelompok. Satu kesalahan kecil dapat memengaruhi ritme seluruh anggota tim sehingga komunikasi dan kebersamaan menjadi kunci.

Nilai-nilai tersebut menjadikan olahraga tradisional tidak hanya berorientasi pada kemenangan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran yang secara tidak langsung menanamkan disiplin, tanggung jawab, kepercayaan, kerja sama, sportivitas, serta kemampuan menerima hasil pertandingan dengan lapang dada.
Bukan Sekadar Perlombaan
Festival olahraga tradisional juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Permainan yang dahulu mudah ditemui di lingkungan masyarakat kini semakin jarang dimainkan anak-anak. Karena itu, kehadiran festival seperti ini menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kembali generasi muda dengan permainan yang mengandung unsur aktivitas fisik sekaligus nilai sosial.
Melalui kegiatan tersebut, KKG PJOK Kecamatan Cicurug turut mendorong agar olahraga tradisional tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan sesaat. Semangatnya diharapkan dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Selain membuat anak lebih aktif bergerak, permainan tradisional memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun interaksi secara langsung. Mereka belajar bermain bersama, menyusun strategi, memberikan dukungan kepada rekan satu tim, hingga menghormati lawan.
Pada akhirnya, kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Keberanian untuk tampil, kemauan bekerja sama, menjaga sportivitas, dan menikmati proses menjadi bagian penting dari pendidikan karakter yang dibangun melalui festival tersebut.

KKG PJOK Kecamatan Cicurug berharap kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga keberadaan olahraga tradisional sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, menyenangkan, dan kaya akan nilai budaya.
Dengan semangat “Lestarikan Budaya, Sehatkan Generasi, Bersama Menuju Indonesia Jaya”, festival ini menjadi pengingat bahwa permainan sederhana yg yang diwariskan dari generasi ke generasi masih memiliki ruang penting dalam membentuk anak-anak yang aktif, kompak, sportif, dan mencintai budaya bangsanya.
Garda Pratama dan Alwi Nurhakim dua orang dari beberapa murid perwakilan dari SD Nyangkowek 2 ikut dalam permainan olahraga hadang sangat antusias mengikuti perlombaan tersebut. (A3L)
