Putus Sekolah di Usia Muda, H. Muslim Anwar Rasyid Buktikan Sukses Tak Hanya dari Bangku Pendidikan

 

DENPASAR BALI, Angkatan Merdeka.com–

Kesuksesan tidak selalu lahir dari bangku pendidikan yang tinggi. Bagi H. Muslim Anwar Rasyid, kehidupan justru menjadi sekolah panjang yang mengajarkannya tentang keberanian, kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, hingga bagaimana menghadapi kegagalan.

Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 14 Juli 1952, Muslim menghabiskan masa kecilnya di Aur Kuning, Bukittinggi. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) selama enam tahun.

Setelah menyelesaikan SR, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pada 1966. Namun, perjalanan sekolahnya tidak berlangsung mulus.

Saat masih duduk di tingkat awal, Muslim mengalami persoalan di sekolah hingga diminta membawa orang tua untuk bisa kembali diterima. Alih-alih pulang ke rumah dan meminta bantuan orang tua, ia justru mengambil keputusan besar yang mengubah jalan hidupnya.

Di usia sekitar 13 tahun, Muslim memilih meninggalkan kampung halaman dan merantau seorang diri ke Pekanbaru, Riau.

Ia berangkat dengan menumpang truk pengangkut sayuran. Tanpa bekal pendidikan yang panjang dan tanpa pengalaman hidup yang matang, Muslim harus belajar bertahan di tengah kerasnya kehidupan perantauan.

Di Pekanbaru, ia menjalani berbagai pekerjaan. Ia pernah mengambil bawang dan sabun dari toko untuk dijual secara eceran. Setelah itu, ia sempat bekerja di restoran sebelum akhirnya masuk ke dunia perdagangan ikan.

Di pasar ikan, ia mendapat kepercayaan menangani distribusi ikan dalam jumlah besar. Ikan yang dikelolanya bisa mencapai ratusan kilogram hingga sekitar satu ton, untuk kemudian disalurkan ke rumah-rumah makan dan pedagang eceran.

 

Di lingkungan pasar yang penuh tantangan tersebut, Muslim justru dikenal karena kejujurannya.

Kepercayaan sang bos kepadanya begitu besar. Bahkan, ketika ada orang yang bertanya mengenai Muslim, sang bos menyebutnya bukan sekadar sebagai anak buah, tetapi seperti anak sendiri.

“Bos saya sangat percaya kepada saya. Kalau ada yang bertanya siapa anak buahnya, dia bilang Muslim itu bukan anak buah saya, tapi anak saya,” kenangnya.

Bagi Muslim, kepercayaan tersebut menjadi modal kehidupan yang nilainya jauh lebih besar daripada uang.

Dari pasar ikan pula, perjalanan hidupnya mendapatkan cerita penting lainnya. Pada 1976, Muslim menikah dengan seorang guru yang dikenalnya ketika berada di lingkungan pasar ikan.

Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Sang istri kemudian turut mendampingi berbagai fase kehidupan Muslim, termasuk ketika ia mulai membangun usaha dan menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan bisnisnya.

Setelah beberapa tahun di Pekanbaru, Muslim kembali mendapat kesempatan untuk merantau lebih jauh.

Pada 1972, ia diajak menuju Ambon. Perjalanan menuju Maluku kala itu tidak mudah. Ia menempuh perjalanan menggunakan kapal laut dari Teluk Bayur, kemudian menuju Jakarta dan Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Ambon.

Perjalanan tersebut memakan waktu cukup lama. Kapal yang ditumpanginya bahkan merupakan kapal barang, bukan kapal penumpang. Ia tidur di antara barang-barang dagangan selama perjalanan.

Sesampainya di Ambon, Muslim kembali bekerja di rumah makan Padang.

Namun, pengalaman bekerja di rumah makan membuatnya mulai berpikir untuk memiliki usaha sendiri. Ia merasa ingin lebih bebas menentukan arah hidup dan melihat peluang usaha di luar pekerjaannya.

Di Ambon, ia mencoba berbagai peluang. Salah satunya adalah usaha figura foto.

Pada masa itu, foto masih menggunakan film. Muslim melihat adanya kebutuhan masyarakat terhadap figura dan kemudian belajar memotong kaca dari lembaran besar menjadi potongan-potongan sesuai ukuran.

Pekerjaan tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus mengajarkannya bahwa peluang usaha bisa ditemukan dari hal-hal sederhana.

Setelah sekitar dua tahun di Ambon, perjalanan Muslim kembali berlanjut.

Tahun 1974 menjadi babak baru ketika ia memutuskan datang dan menetap di Bali.

Bali kemudian menjadi tempat di mana sebagian besar perjalanan hidup dan perjuangannya berlangsung.

Dengan pengalaman bekerja di rumah makan, Muslim kembali menekuni dunia kuliner. Ia juga sempat mencoba usaha kerajinan yang didatangkan dari Yogyakarta dan dipasarkan ke berbagai kawasan wisata, termasuk Goa Gajah dan Kintamani.

Namun, usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

Sistem pembayaran dari sejumlah toko membuat perputaran modalnya terganggu. Barang yang sudah diberikan tidak selalu dibayar sesuai nilai yang seharusnya. Kondisi tersebut membuat Muslim memilih menghentikan usaha tersebut.

Ia kemudian kembali ke dunia rumah makan.

Dari 1978 hingga 1982, Muslim bekerja di rumah makan sambil mengumpulkan pengalaman dan membangun jaringan.

Hingga akhirnya pada 1982, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri.

Dengan modal yang terbatas, Muslim membuka rumah makan di kawasan Jalan Diponegoro, Denpasar, tepatnya di kawasan yang dahulu dikenal sebagai Hotel Dewi.

Modal awalnya bukan berasal dari tabungan besar. Ia mengandalkan bantuan dan kepercayaan teman-teman serta para pemasok yang bersedia memberikan barang untuk dibayar kemudian.

“Saya waktu itu nekat saja. Banyak teman yang baik dan percaya kepada saya. Ada yang memberikan pinjaman, ada yang mengutanginya barang. Alhamdulillah, usaha bisa berjalan,” ujarnya.

Keberanian tersebut kemudian membuahkan hasil.

Usaha rumah makan yang dirintis dari bawah mampu bertahan selama puluhan tahun. Kontrak tempat usaha yang pada awalnya sekitar Rp2 juta per tahun perlahan meningkat hingga sekitar Rp20 juta per tahun.

Namun, Muslim tetap bertahan.

Selama sekitar tiga dekade, rumah makan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia tidak hanya membangun usaha, tetapi juga membangun hubungan dengan pelanggan, teman, pemasok dan masyarakat di sekitarnya.

Hingga akhirnya pada 2012, Muslim memilih melepas usaha tersebut setelah terjadi perubahan kepemilikan tempat.

Meski masih memiliki masa kontrak yang panjang, ia memutuskan untuk bernegosiasi dan mengakhiri usahanya di lokasi tersebut.

Setelah itu, ia sempat memilih untuk berhenti dari aktivitas rumah makan dan mengembangkan usaha kos.

Namun, perjalanan hidup kembali berubah ketika sang istri yang telah pensiun dari pekerjaannya sebagai guru ingin kembali membuka rumah makan.

Muslim pun kembali mendukung keinginan tersebut.

Usaha rumah makan kembali dicoba. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah sekitar dua tahun, modal yang dikeluarkan bahkan belum kembali.

Usaha kemudian kembali dijalankan oleh anaknya dan sempat bertahan hingga pandemi COVID-19.

Pandemi membawa tantangan baru. Aktivitas usaha terganggu dan akhirnya rumah makan kembali berhenti.

Meski berkali-kali mengalami jatuh bangun, Muslim tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti.

Baginya, setiap kegagalan selalu memberikan pelajaran baru.

Dorongan untuk kembali beraktivitas kemudian datang dari anak perempuannya yang melihat berbagai perlengkapan usaha yang tersimpan terlalu lama berisiko rusak.

Dari situlah muncul kembali semangat untuk mencari tempat dan membuka aktivitas usaha.

Kini, perjalanan panjang tersebut membawanya kembali menekuni bisnis kuliner melalui Rumah Makan Minang Lapak Bundo Kandung di Jalan Yos Sudarso No. 4, Denpasar.

Di usia yang tidak lagi muda, Muslim tetap berusaha aktif dan produktif.

Baginya, bekerja bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang menjaga semangat hidup dan memberikan manfaat bagi keluarga serta masyarakat.

Selain menjalankan usaha, Muslim juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Ia merupakan salah satu pendiri organisasi masyarakat Minang di Bali dan telah terlibat dalam Ikatan Keluarga Minang Sayo sejak sekitar 1980. Saat ini, ia berada di jajaran dewan penasihat.

Ia juga pernah terlibat dalam Ikatan Saudagar Muslim (ISMI) serta berbagai kegiatan sosial lainnya.

Muslim juga pernah aktif dalam lingkungan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, kini ia memilih memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda untuk melanjutkan berbagai kegiatan tersebut.

Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sarana untuk membangun persaudaraan dan memberikan manfaat.

Puluhan tahun tinggal di Bali membuat Muslim memiliki ikatan kuat dengan masyarakat setempat.

Ia mengaku banyak mendapatkan pengalaman baik dari masyarakat Bali yang memperlakukannya seperti saudara sendiri.

Menurutnya, masyarakat pendatang harus memahami filosofi hidup di tempat mereka tinggal dan mampu menghormati adat, budaya serta masyarakat setempat.

“Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” katanya.

Prinsip tersebut menjadi pegangan Muslim dalam menjalani kehidupan sebagai perantau.

Ia percaya tidak boleh ada sekat berdasarkan suku maupun agama dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurutnya, semua orang yang hidup di bumi pada dasarnya adalah saudara dan harus saling membantu.

Ia juga memegang nilai Vasudhaiva Kutumbakam, filosofi yang bermakna bahwa seluruh manusia merupakan satu keluarga.

“Semua yang tinggal di bumi ini adalah saudara. Tidak ada orang lain. Kita harus saling membantu,” ujarnya.

Muslim mengaku pernah merasakan masa sulit dalam hubungan sosial setelah tragedi Bom Bali. Ia menyayangkan jika sebuah peristiwa dapat membuat hubungan masyarakat yang sebelumnya begitu dekat menjadi renggang.

Namun, ia bersyukur seiring berjalannya waktu, hubungan masyarakat kembali membaik.

Menurutnya, masyarakat Bali memiliki budaya menerima dan menghormati siapa pun yang datang untuk hidup serta mencari penghidupan di Pulau Dewata.

Ia berharap hubungan baik antara masyarakat Bali dan masyarakat Minang terus dipertahankan.

“Kita bersama-sama membangun Bali. Orang Minang harus bisa menghormati masyarakat Bali. Tidak membeda-bedakan suku maupun agama,” ujarnya.

Semangat kebersamaan tersebut juga diwujudkan melalui keterlibatannya dalam pembangunan fasilitas bersama masyarakat Minang di Bali.

Salah satunya adalah gedung serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. Untuk kegiatan sosial, fasilitas tersebut dapat digunakan tanpa biaya. Sementara untuk kegiatan tertentu seperti acara pernikahan, fasilitas tersebut dapat disewakan.

Bagi Muslim, apa yang dibangun bersama harus bisa memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Di balik perjalanan panjang tersebut, ada satu hal yang paling sering ia tekankan ketika berbicara tentang kesuksesan: pendidikan memang penting, tetapi bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan.

Muslim menyadari bahwa pendidikan formalnya tidak panjang. Ia bahkan sempat meninggalkan sekolah ketika masih sangat muda.

Namun, ia tidak pernah berhenti belajar.

Pasar ikan mengajarkannya kejujuran. Dunia kerja mengajarkannya tanggung jawab. Perantauan mengajarkannya keberanian. Dunia usaha mengajarkannya kesabaran. Sementara kegagalan mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah.

“Saya sendiri pengalaman sekolahnya tidak panjang. Banyak orang mungkin tidak percaya. Tapi saya bersyukur. Ternyata sukses itu tidak hanya ditentukan oleh sekolah,” ungkapnya.

Menurut Muslim, seseorang harus memiliki kemauan untuk terus belajar, berusaha dan membuka diri terhadap pengalaman.

“Yang penting semangat, mau berusaha dan mau belajar. Pasti ada jalannya. Tidak ada jalan yang tidak terbuka sepanjang kita mau berusaha,” pesannya.

Perjalanan H. Muslim Anwar Rasyid menjadi gambaran bahwa kehidupan tidak selalu memberikan jalan yang mudah.

Dari seorang anak di Aur Kuning, Bukittinggi, yang meninggalkan sekolah dan merantau seorang diri pada usia 13 tahun, ia kemudian menjalani kehidupan di Pekanbaru, menyeberangi lautan menuju Ambon, hingga akhirnya menetap di Bali.

Ia memulai dari pekerjaan sederhana, hidup dari kepercayaan orang lain, jatuh bangun membangun usaha, hingga mampu bertahan selama puluhan tahun di dunia kuliner.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang tidak boleh mengukur masa depan hanya dari keadaan hari ini.

Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Kegagalan bukan akhir perjalanan. Dan pendidikan formal bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.

Selama masih memiliki kemauan untuk belajar, keberanian untuk mencoba, kejujuran dalam menjalani pekerjaan dan semangat untuk terus bangkit, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan baru.

Kini, melalui perjalanan hidup yang telah dilaluinya selama puluhan tahun, H. Muslim Anwar Rasyid ingin meninggalkan pesan sederhana bagi generasi muda: jangan takut memulai dari bawah, jangan berhenti belajar, jaga kepercayaan dan jangan menyerah ketika menghadapi kegagalan.

Sebab, menurutnya, selama seseorang mau berusaha, selalu ada jalan yang terbuka.  (GD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *