Tersirat Watak Pejabat Publik Diacara Silaturahmi Wartawan – Pemkot Jakut

JAKARTA, AngkatanMerdeka.com –

Pertemuan dalam rangka silaturahmi guna mempererat hubungan harmonis mitra kerja antara awak media dengan pejabat Kantor Walikota Jakarta Utara di ruang pola kantor Walikota di Jl. Yos Sudarso No. 27 – 29, Rabu, 14 Januari 2026, dihadiri sekitar 50 orang.

Pertemuan yang diinisiasi oleh Kominfotik dan Pokja PWI Jakarta Utara itu berlangsung santai dan normatif, saling memberi masukan.
berlangsung sesuai diharapkan inisiator.

Pada intinya pertemuan dengan durasi 1 – 2 jam itu memperkenalkan diri pejabat baru di jajaran unit teknis setingkat Kepala Suku Dinas pemerintahan Kota Jakarta Utara. Berdasarkan undangan 16 pejabat setara Kepala.Suku Dinas di ruang lingkup kantor walikota Jakarta Utara.

Pertemuan itu sendiri sudah direncanakan jauh hari, sejak Desember 2025 karena terkendala teknis baru dapat direalisasikan pada pertengahan Januari 2026 ini.

 

Momen pertemuan jarang sekali terjadi itu dihadiri langsung 6 orang pejabat setingkat Kasudin, selebihnya10 orang absen diwakilkan setingkat Kepala seksi.

Enam orang setara Kasudin yaitu: Kasudin Sumber Daya Air,.Haria Suwandi; Kasatpol PP, Buddy Novian, Kasudin Cipta Karya, Tataruang dan Pertanahan, Harry Patyatno; Kasudin Taman dan Hutan Kota, Reina Camelia; Kasudin Damkar, Budi Haryono dan Kasudin Kominfotik Jakarta Utara, Dr.Fauzi.

Uniknya dalam pertemuan itu hadir Asisten Direktur PLN, sengaja diarahkan hadir mememui awak media walikota Jakarta Utara. Entah apa tujuannya “disisipkan”.

Kehadirannya mendapat perhatian tersendiri. Diluar itu media mencatat pada hari Senin 12/1/2026 Jakarta Utara dilanda banjir merata, terjadi korban pasangan suami istri tewas kesetrus di Semper Barat. Hari Selasa, 13/1/2026 Walikota Jakarta Utara Hendra Hidayat mendapat kunjungan jajaran direksi PLN dalam acara silaturahmi, dan pada hari Rabu 14/1/2026 utusan PLN hadir bersama jajaran pejabat Jakut silaturahmi dengan awak media setempat.

Entahlah itu saling berhubungan atau tidak? Sesuai agenda silaturahmi terbatasi baik komunikasi maupun undangan.

Kembali, sasaran agenda silaturahmi dihadiri para Kasudin terlebih Sudin yang kerab menjadi sorotan isu media yang diharapkan kehadiran. Namun umumnya mereka tidak datang, memenuhi undangan, yaitu: Kasudin Bina Marga, Kasudin Perumahan Rakyat, Kasudin Kesehatan, Kasudin Kebudayaan, Kasudin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kasudin Kebudayaan, Kasudin Pendidikan wilayah 1, Kasudin Pendidikan Wilayah 2 dan Kepala Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Adm Jakarta Utara.

 

Tentu, ketidak hadiran para pejabat sesuai undangan diwakilkan anak buahnya dengan masing-masing memberikan alasan beragam.

Tersurat dan Tersirat
Awak media memberikan apresiasi pada Kasudin yang ‘berani tampil’ tanpa harus mencari alasan absen. Mereka adalah yang tersurat (6 Kasudin yang hadir) dalam perkenalanya menyampaikan sikap yang terbuka berniat dapat menjalin kinerja yang harmonis dengan awak media Kantor Walikota Jakarta Utara.

Umumnya mereka memandang media adalah mitra kerja yang strategis ditengah gencar media sosial. Namun demikian mereka juga sulit membedakan mana media yang harus mendapat kepercayaan dalam kemitraan, dan tidak sedikit justru mengganggu kinerja kedinasan dan jadi oknum wartawan.

Kebimbangan dikalangan Kasudin Kota Jakarta Utara dan mungkin salah dalam mempersepsikan wartawan menjadi hal biasa dalam watak awak media berpengalaman.

Apalagi ditengah kondisi marak wartawan baru bermunculan serta kurangnya koordinasi dan komunikasi yang lebih inten antar wartawan tugas lokal dengan Kominfotik Jakarta Utara. Kominfotik sebagai kepanjangan tangan dan narasi walikota menanggung beban berat dalam membuka ruang informasi, konfirmasi, dan klarifikasi hingga tercapai suasana informasi publik yang kondusif.

Baik, itu fakta, sepenggal bagian dari sisi yang tersurat artinya yang hadir dalam acara silaturahmi awak media dan pejabat kota pemerintahan Jakarta Utara, yang diinisiasi Sudin Kominfotik bersama Pokja PWI Walikota Jakarta Utara..

Lalu bagaimana melihat atau menilai pejabat setingkat Kasudin di Pemerintahan Kota Jakarta Utara yang tidak hadir?

Pertama, penulis menilai kurangnya literasi pejabat dalam memaknai informasi publik. Padahal wartawan diatur dalam Undang undang Nomor 40 tahun 1999 tentang pers dan terkait Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Publik.

Kedua, kurang mental keberanian bicara atau bernarasi didepan publik khusunya pada awak media.

Ketiga, sikap cuek, tidak penting, tidak menguntungkan, merepotkan dan dianggap menggangu “kenyamanan dinas’ kerab tertanam dalam benak pikiran pejabat.

Empat, etikabilitas pejabat diduga rendah tidak setinggi penghasilan yang dapat mereka bawa pulang untuk keluarga. Sikap membongi diri sendiri melalui anak buah pejabat bila ditemui wartawan di kantornya biasanya beralasan antaranya ”sedang rapat”, ” sedang tugas lapangan.” Padahal bila dicek and ricek banyak unsur tidak benarnya dari pada kebenaranya.

Enam, fakta integritas dan sumpah jabatan kadang dianggap sebuah seremonial bukan sesuatu yang sakral yang wajib dipatuhi untuk ditaati guna mengabdi dan melayani masyarakat tanpa melihat kasta dan status sosialnya.

Kesimpulan, silaturahmi adalah simbol kebaikan dalam motif apapun. Silaturahmi adalah salah satu cara mencairkan suasana/sesuatu, dan itu diajarkan pula dalam agama tertentu.

Pada intinya pejabat siapapun dan dimanapun, kehidupan adalah takdir, takdir ada jalanya ikhtiar atau berusaha. Mereka pejabat “yang memilih” atau ditakdirkan menduduki jabatan setingkat walikota atau Kasudin, maka hadapilah dinamika kenyatannya.

Tidak perlu juga menghindar diri bila berwatak jujur, menjaga etika/moral, berintegritas, akuntabel dan transparan.

Wartawan hanya pekerja buruh, orang biasa yang melekat dalam dirinya amanah tugas bertanya. Mungkin juga pilihan ‘takdir’ keadaan,.maka hargailah, “bertanya itu sunah, menjawab itu wajib”.:  (Saimin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *